Begini Prospek Bisnis Properti di Tahun Politik 2019

Bisnis Properti 2019

Pemilu eksekutif dan legislatif bakal serentak digelar bulan April mendatang, apakah situasi politik saat ini berpengaruh dengan kondisi properti Tanah Air? Managing Director Sinarmas Land Dhony Rahajoe memberikan penjelasanya.

Hanya dalam hitungan bulan, pemilu serentak bakal dilaksanakan. Tepatnya pada bukan April 2019 mendatang. Meski hampir setiap tahun kita melakukan pemilu sebagaimana yang dikatakan oleh Managing Director Sinarmas Land Dhony Rahajoe, tetapi tahun ini adalah pemilihan umum skala nasional. Akan ada pemilihan ulang eksekutif dan legislatif dalam waktu serentak.

Semakin mendekati hari H, suasana politik jadi kian tak menentu. Banyak aspek terpengaruh dengan kegiatan politik. Bahkan ada pengaminan umum, bahwa masa kampanye seperti sekarang ini adalah masa di mana banyak pengusaha mendekati para calon eksekutif dan legislatif. Tahun eksekusinya bakal dilakukan nanti saat mereka sudah terpilih.

Properti Tetap Berjalan Positif

Meski demikian tidak dengan properti. Dunia properti masih berjalan positif lantaran kebutuhan barang-barang properti masih tinggi. Angka kebutuhan rumah yang masih belum terpenuhi atau backlog masih tinggi. Terutama kebutuhan rumah untuk segmen  menengah ke bawah.

Menurut Dhony Rahajoe Managing Director Sinarmas Land dalam sebuah diskusi di Jakarta yang dikutip SewaKantorCBD dari Kompas mengatakan “Kalau saya lihat siklus ini, pemilu itu hal biasa yang sudah dilakukan berkali-kali. Namanya penjualan rumah tetap akan optimistis. Bagaimanapun tanah akan tetap dibutuhkan. Jadi kami tetap yakin bahwa tahun 2019 bakal jadi tahun yang baik untuk investasi properti,” Senin (17/12/2018).

Bahkan ia melihat signal kenaikan properti pada tahun 2019 sudah terlihat sejak akhir tahun 2018, walaupun kenaikan yang dirasakannya belum begitu signifikan. Tetapi ini cukup menjadi signal yang baik.

Menurut keterangan yang disampaikan Dhony, khusus untuk perumahan terutama bila dilihat year on year semester pertama dari KPR yang disalurkan Bank BTN, terlihat jelas ada pertumbuhan di atas angka rata-rata yang dihitung OJK, yaitu sekitar 19 persen.

Perlu diketahui bahwa PT Bank Tabungan Negara (BTN) berhasil mencatat pertumbuhan kredit pada kuartal III tahun 2018 diangka 19,28 persen menjadi Rp 220,07 triliun. Angka tersebut meningkat bila dibanding dengan penyaluran kredit BTN di kuartal III tahun 2017 lalu yang hanya sebesar Rp 184,5 triliun.

Sejauh ini pertumbuhan paling terasa didorong oleh kenaikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi yang dilakukan oleh Bank BTN melalui kucuran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). “Jadi kita melihat ada tren naik.” Aku Dhony.

Kenaikan ini juga didukung dengan keberadaan generasi milenial yang sudah mulai ada kebutuhan dengan properti. Terutama karena ada banyak relaksasi yang diberikan pemerintah.

(Baca Juga: 10 Tahap Bisnis Properti Yang Banyak Melahirkan Pengusaha Sukses)

Kondisi Global Lebih Berpengaruh

Dibanding dengan yang terjadi di dalam negeri akibat pergolakan politik, yang terjadi pada perekonomian luar negeri jauh lebih signifikan berpengaruh pada dunia properti tanah air. Hal ini diakui secara jujur oleh Dhony.

Alih-alih kondisi politik memberikan pengaruh signifikan, menurut Dhonie “kondisi perekonomian global jauh lebih berpengaruh.” Perang dagang yang terjadi antar dua negara adikuasa Amerika Serikat-China, ditambah dengan rencana kenaikan suku bungan Bank Sentral AS, jelas bisa dipastikan bakal memberikan dampak besar bagi pergerakan industri properti di Tanah Air.

Jelas “kalau suku bunga naik, otomatis bunga konsumsi juga bakal naik. Akan ada pengaruh yang sangat besar. Kita berharap, pemerintah bisa menjaga stabilitas bunga di Indonesia, dengan begitu sehingga bisa terjangkau,” harap dia. (Source: Kompas.com)