Begini Rumitnya Pengelolaan Gedung Pencakar Langit

Gedung Tahan Gempa

Gedung bertingkat tinggi atau gedung pencakar langit kerap ditemukan di kota-kota besar di seluruh dunia. Gedung-gedung ini pun menjadi suatu nilai dan identik dengan simbol kemajuan suatu wilayah atau negara. Menurut Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH), kategori gedung tinggi atau biasa disebut supertall adalah gedung dengan tinggi di atas 300 meter.

Pentingnya Gedung Pencakar langit

Selain simbol kemajuan, keberadaan gedung pencakar langit juga identik dengan kawasan bisnis terpadu yang seringkali menjadi pusat perputaran uang suatu negara. Kehadiran gedung pencakar langit memang menghadirkan citra megah dan modern bagi setiap orang.

Tak jarang, gedung-gedung ini memamerkan keindahan arsitektur dari insinyur perancang gedung kawakan, yang biasanya menghabiskan biaya pembangunan yang tak sedikit. Gedung-gedung inilah yang nantinya menjadi pusat ekonomi nasional, karena terhubung dengan kawasan bisnis terpadu.

Gedung-gedung pencakar langit juga dibangun atas dasar memenuhi permintaan pasar terkait ketersediaan ruang kantor dan hunian. Tak jarang, harga sewanya pun setara dengan biaya proses pembangunan. Walau demikian, gedung ini tetap laris bagi pengembang properti dan selalu menjadi incaran para perusahaan untuk melabuhkan kepentingan bisnis di suatu negara, khususnya di Indonesia.

Beruntungnya, gedung-gedung pencakar langit ini menjadi solusi dalam mengatasi masalah ekonomi dan geografis. Di sisi ekonomi, gedung pencakar langit menyediakan wadah bagi para pebisnis untuk mengembangkan usaha. Sementara di sisi geografis, masalah kekurangan lahan dan kepadatan penduduk terhadap hunian bisa diatasi.

(Baca Juga: Menakjubkan, Ini Dia Deretan 20 Gedung Tertinggi di Dunia!)

Rumitnya Pengelolaan Gedung Pencakar Langit

Dibalik semua keuntungan yang didapat atas keberadaan gedung pencakar langit, pernahkan Anda membayangkan bagaimana pengelolaanya? Bagaimana tiap lampu gedung dinyalakan dan dimatikan? Bagaimana kira-kira kebutuhan air didapatkan san sebagainya.

Jika Anda tak pernah membayangkan itu semua, ada baiknya coba bayangkan. Setidaknya Anda akan menemukan beberapa hal yang begitu rumit dari pengelolaan gedung pencakar langit.

1. Operasional gedung

Masalah operasional gedung pencakar langit memang tak terhindarkan. Masalah-masalah muncul seperti kebersihan ruang gedung, pengelolaan sampah gedung, pasokan air untuk gedung, biaya operasional bahkan masalah listrik.

Ditambah pula dengan masalah kerusakan lingkungan yang melibatkan energi listrik dan pengelolaan sampah, ini membuat pengelola gedung harus pintar-pintar mengatur agar tetap seimbang.

2. Kontrol energi listrik

Gedung pencakar langit dengan tinggi 100-300 meter memang banyak mengonsumsi energi listrik besar. Hal ini demi menyuplai energi listrik seimbang ke seluruh gedung, serta menyokong aktivitas pekerja dalam gedung. Namun, besarnya konsumsi listrik justru menambah masalah baru.

Isu kerusakan lingkungan semakin berkembang dan bahkan parah. Listrik yang sebenarnya berasal dari batu bara, minyak, bahkan gas bumi tidak selamanya tersedia hingga ratusan tahun. Sumber daya alam tersebut perlu dikelola sehemat mungkin agar generasi mendatang bisa memanfaatkannya.

Tak hanya itu, ada 100 negara (termasuk Indonesia) berkomitmen pada Perjanjian Paris 2015, untuk menjaga kenaikan suhu bumi tetap di bawah selisih 2 derajat Celcius. Inilah juga yang membuat pengelola gedung wajib mengontrol energi yang dipakai.

3. Biaya tenaga kerja naik, biaya operasional juga naik

Perusahaan-perusahaan yang menyewa ruang kantor di gedung pencakar langit kerap menghadapi masalah ini. Seiring dengan kenaikan inflasi, kenaikan nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar, biaya konsumsi pangan naik, dan sebagainya, membuat divisi finansial suatu perusahaan menaikkan gaji para pekerja. Hal ini berfungsi untuk menyeimbangkan pemasukan para pekerja dengan biaya konsumsi yang mereka sisihkan.

Di samping itu, perusahaan juga harus membayar biaya operasional gedung ke pengembang sebagai pertanggungjawaban penyewa. Tentu saja, biaya-biaya yang naik tadi juga turut menaikkan biaya operasional gedung. Demi perawatan gedung secara optimal pula.

Tak jarang, pengelola gedung mesti cermat mengurangi biaya-biaya tak terpakai agar sanggup membayar biaya operasional. Cara yang lazim ditempuh adalah mengedukasi dan mendisiplinkan pekerja dalam gedung agar lebih hemat energi.

4. Individu pekerja yang abai dan boros energi

Adanya edukasi dan disiplin terhadap pekerja mengenai penghematan energi ternyata membuat sebagian dari mereka abai dan bahkan lebih boros energi. Mungkin, ada anggapan segala hal tentang perawatan ruang dan gedung bukanlah tanggung jawab pekerja, melainkan pengelola gedung.

Lain halnya dengan pekerja yang memang sudah tahu bahwa itu adalah tanggung jawab bersama, ternyata juga masih boros energi karena lupa dan terburu-buru.

Edukasi dan disiplin semacam ini sebenarnya membutuhkan waktu dan proses, agar para pekerja memiliki kesadaran otomatis dalam menjaga lingkungan. Menjelaskan efek boros energi terhadap kenaikan biaya operasional perusahaan, gaji, dan biaya konsumsi hidup, memungkinkan pekerja semakin sadar pentingnya hemat energi di gedung kantor.

5. Sistem pengelolaan listrik masih manual

Meskipun gedung-gedung pencakar langit bertebaran di kota besar, namun itu tidak menjamin gedung itu memiliki sistem pengelolaan listrik yang modern. Dalam arti, kebanyakan gedung masih terbiasa pada sistem pengelolaan listrik secara manual, yang melibatkan office boy secara berlebihan.

Untuk urusan mematikan pendingin ruangan atau bahkan lampu, tak jarang “menyuruh” office boy untuk mengerjakannya. Atau, terkadang lupa mematikan karena terburu-buru ingin pulang kerja. Bukankah begitu?

Menghadapi tantangan ini, dibutuhkan teknologi pengelolaan energi berbasis digital untuk pengelolaan gedung. Teknologi ini mengatur suplai energi listrik dalam gedung, agar biaya operasional semakin efisien.

Begitulah rumitnya pengelolaan gedung pencakar langit. Bagaimanapun harus kita sadari bahwa menghuni gedung sama seperti saat menghuni rumah. Gedung kita tempati setiap hari untuk bekerja. Sehingga harus ada tanggung jawab untuk sama-sama menjaganya demi tetap baik dan berkualitas, sehingga dapat menunjang aktivitas bisnis pula.