Cara Menilai Bangunan Gedung Tahan Gempa atau Tidak

Gedung Tahan Gempa

Sebagai penduduk Indonesia, sudah sewajarnya khawatir terhadap kedatangan gempa yang tidak dapat dipastikan. Negara khatulistiwa yang berada di Cincin Api Pasifik, di satu sisi memang menawarkan keindahan alam dan kesuburan tanah, meski konsekuensinya banyak terjadi bencana alam berbasis pergerakan lempeng, seperti gempa.

Kawasan Cincin Api Pasifik atau Circum-Pacific Belt merupakan daerah sesar atau zona rekahan yang membentang sekitar 40.0000 km, mulai dari Chile (Amerika Selatan), Jepang (Asia Timur), dan berhenti di Asia Tenggara. Kawasan ini biasa terjadi gempa, khususnya di sepanjang patahan. Kawasan ini pula menjadi pusat gunung api di Bumi sebanyak 75 persen, menurut National Geographic.

Indikator Gedung Tahan Gempa atau Tidak

Pemerintah Indonesia pun sudah berupaya sekeras mungkin untuk mengurangi korban jiwa akibat gempa, salah satunya dengan inovasi konstruksi gedung tahan gempa.

Namun, tidak semua masyarakat Indonesia benar-benar memahami urgensi membangun gedung tahan gempa. Korban jiwa yang terjadi justru semakin banyak akibat mengabaikan dinamika alam. Selain itu, jauh sebelum teknologi dan inovasi konstruksi muncul, leluhur bangsa Indonesia justru sudah menggagas dan menerapkan bangunan-bangunan tahan gempa, bahkan fleksibel terhadap gempa.

Kembali ke masa sekarang, lantas apa yang perlu diperhatikan sebelum memiliki sebuah bangunan gedung atau hunian di kawasan rawan gempa seperti Indonesia? Dilansir dari berbagai sumber, berikut cara menilai gedung itu tahan gempa atau tidak.

1. Lokasi

bangunan-tahan-gempa
Jalur Cincin Api Pasifik. (Foto: Wikipedia)

Hampir seluruh pulau di Indonesia merupakan jalur Cincin Api Pasifik. Untuk itu, kontraktor dan pemilik gedung harus kenal lokasi dan melihat peta bahaya gempa.

Sehingga, dapat memperoleh data untuk perhitungan nilai percepatan gaya dalam desain ketika gempa terjadi. Konsekuensinya, berpengaruh pada ukuran balok, kebutuhan tulangan balok dan kolom meningkat, juga memilih pondasi kuat dan dalam agar bangunan tidak runtuh.

(Baca Juga: Waspadai Sesar Aktif (Penyebab Gempa Bumi) Sebelum Bangun Gedung)

2. Jenis tanah

Pemilik dan kontraktor ada baiknya telah melakukan penyelidikan kondisi tanah secara komprehensif agar dapat mengetahui jenis tanah. Baik itu jenis tanah lunak, sedang, atau keras. Tanah lunak dianggap mempercepat dan memperbesar guncangan gempa.

Pastikan tanah memiliki kepadatan cukup baik, sehingga getaran gempa tidak mengubah permukaan tanah terlalu ekstrem dan merusak struktur bawah bangunan.

2. Rencanakan denah yang simetris dan simpel

Denah simetris dan simpel dianggap mampu memperkokoh struktur dan menyebarkan gaya secara merata. Dengan tanpa bentukan dan aksen yang berlebihan, struktur ini dapat menahan gaya gempa karena mengurangi efek torsi dan meratakan kekuatan gempa ke bangunan.

Tidak hanya itu, denah seperti ini membantu penghuni untuk cepat melakukan evakuasi ketika gempa berlangsung. Biasanya bangunan tahan gempa juga memiliki jalur evakuasi yang jelas.

3. Perhatikan penggunaan fondasi dan pemilihan beton

Dalam membangun gedung atau rumah, struktur paling bawah berfungsi untuk menyalurkan beban ke tanah. Struktur tersebut harus berdiri di tanah permukaan keras, dengan kedalaman minimum 60-75 cm dari fondasi. Selain struktur paling bawah, fondasi dibangun bersama tiang pancang yang dalam, serta terhubung satu sama lain agar pergerakannya menjadi satu kesatuan.

Sedangkan komponen beton yang diperlukan terdiri atas pasir, kerikil, air dan semen dengan presisi demi mengurangi resiko retakan dan beton runtuh saat gempa. Struktur beton bertulang juga harus dihitung detail dan mampu menahan beban kelembaman (inersia) gempa.

4. Perhatikan tinggi dan jumlah lantai

Tinggi dan jumlah lantai pada gedung atau rumah menentukan beban yang didukung tanah dan fondasi. Jika tinggi dan jumlah lantai sedikit, efek getaran gempa kecil, dan kerugian makin sedikit. Namun, ini biasanya bisa diatasi dengan perhitungan tepat dan fondasi kuat.

5. Gunakan material konstruksi khusus tahan gempa

Material konstruksi yang dikhususkan tahan gempa dapat meminimalisir kerusakan saat bangunan terjadi guncangan. Pilih bahan berkualitas baik, bersertifikat, dan berelemen tepat untuk menyerap energi yang dihasilkan gempa bumi. Contoh material konstruksi tahan gempa seperti beton bertulang, konstruksi baja ringan, dan bata ringan.

6. Seluruh komponen terikat baik dan kuat

Perhatikan seluruh komponen dalam pembangunan gedung atau rumah, pastikan seluruhnya terikat dengan baik. Gunanya, untuk memperkokoh bangunan dan membantu bangunan lebih fleksibel dalam menyalurkan beban gempa lebih merata.

Sehingga, ketika guncangan terjadi, bangunan akan fleksibel mengikuti getaran gempa. Komponen yang terikat baik dan kuat juga menghemat biaya renovasi jika bangunan rusak pasca gempa. Hal ini bisa menjadi indikator sebuah bangunan tahan gempa atau tidak.

7. Patuh aturan SNI gempa

Standar Nasional Indonesia (SNI) gempa dikeluarkan pada tahun 2002 dan 2012. SNI gempa menentukan nilai percepatan maksimum di batuan dasar (nilai PGA) dalam ketahanan rancangan bangunan. Nilai PGA ini tergantung seberapa rawan daerah terkena gempa dan berubah setiap tahun. Misal, nilai PGA untuk kota Palu tahun 2012 adalah minimum 1 hingga 1,2 G.

Dari aturan ini, bisa kita katahui apakan sebuah bangunan tahan gempa atau tidak. Bila bangunan gedung perkantoran tidak taat pada aturan SNI gempa, maka boleh diragukan kualitasnya. Selain itu, tinggi bangunan dan sistem struktur juga diatur dalam SNI gempa. Bukan berarti tidak boleh ada bangunan lantai 10, 20, 30, asalkan proses pembangunan sudah konsisten dan sesuai dengan kaidah.

Kini, Anda tidak perlu khawatir lagi tinggal di Indonesia. Jika gedung perkantoran atau rumah yang dihuni sudah memenuhi kriteria dan dibangun dengan cermat sesuai dengan aturan bangunan tahan gempa.