Membawa Alat Kerja Pribadi ke Kantor, Setuju?

Membawa Alat Kerja Pribadi

Tren gadget di zaman sekarang sudah berbeda dengan keadaan beberapa tahun silam. Contohnya saja, komputer, laptop, printer, ponsel, dan beberapa gadget lainnya. Dulu, barang-barang semacam itu lebih banyak dimiliki oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis atau orang-orang yang lebih fokus pada bidang teknologi dan informasi. Pemanfaatan barang tersebut lebih banyak digunakan untuk keperluan kerjaan.

Sekarang, hampir semua orang memiliki gadget. Hal tersebut tentu mengubah tren lama menjadi sebuah tren baru di dunia bisnis dengan istilah Bring Your Own Device atau disingkat BYOD. Hal ini ditujukan untuk mengartikan kondisi ketika barang-barang yang sebenarnya milik pribadi namun digunakan juga untuk keperluan kantor. Lalu apakah hal tersebut boleh dilakukan?

Perkembangan Penggunaan Gadget

Pada dasarnya, jika kita melihat tren gadget saat ini, maka munculnya fenomena BYOD sendiri tidak terlalu mengagetkan. Kenapa bisa seperti itu? Kita flashback dulu ke tahun 2000-an awal. Saat itu ponsel yang digunakan untuk keperluan bisnis dibuat sangat khusus.

Contohnya Nokia Communicator Series memiliki perbedaan yang jauh dengan Nokia 3310. Seri Nokia 3310 dirancang sebagai ponsel genggam yang target pasarnya hanya untuk masyarakat umum yang ingin menggunakan telepon genggam dengan fasilitas SMS dan telepon saja.

Sedangkan Nokia Communicator Series, ponsel ini sudah dirancang khusus untuk pebisnis. Hal tersebut bisa terlihat pada fitur yang disematkan padanya yakni adanya fitur menerima dan mengirim email. Bahkan ada fitur untuk mengetik layaknya sebuah laptop dengan ukuran mini.

Sekarang, munculnya ponsel dengan “embel-embel” smartphone yang semakin mudahnya masyarakat untuk menikmati fasilitas internet. Hal-hal yang dulunya hanya untuk kalangan pebisnis saja kini bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Saat ini, kita sudah tidak asing lagi mengirimkan file, foto, dan dokumen-dokumen lainnya menggunakan email yang notabene dulu hanya untuk kalangan pebisnis saja.

Ditambah lagi harga gadget sekarang juga rata-rata sudah terjangkau untuk masyarakat umum dibandingkan dulu. Secara tidak langsung, siapapun dapat memiliki gadget yang setara dengan gadget seorang pebisnis.

Pro Kontra BYOD

Alat Kerja Pribadi
Image: Unsplash

Sekarang kita kembali bahas mengenai BYOD, apakah fenomena BYOD lebih banyak untung atau ruginya? Jika kita berbicara mengenai untung rugi itu tergantung sang pemilik. Keuntungan-keuntungan menggunakan fasilitas pribadi untuk kantor bisa dilihat sebagai berikut.

Pro

1. Fleksibelitas kerja

Keuntungan pertama adalah fleksibilitas dalam pekerjaan. Bisa Anda bayangkan ketika Anda sudah selesai kerja, tiba-tiba ada kabar dari kantor kalau ada dokumen yang harus dikerjakan pada saat itu juga.

Jika semua pekerjaan ada pada gadget pribadi, Anda tidak perlu lagi harus kembali ke kantor. Anda dapat mengerjakan dokumen tersebut di rumah dan jika sudah selesai dapat segera dikirimkan menggunakan email.

2. Jaminan keamanan

Dari sisi perusahaan sendiri, dengan menggunakan gadget karyawan, maka dari sisi keamanan dan perawatan akan lebih terjamin. Sebab, siapapun pasti akan merawat dan menjaga barang-barang miliknya sendiri. Dari sisi biaya tentunya hal tersebut dapat mengurangi beban perusahaan.

3. Kebebasan dalam menggunakan alat

Keunggulan lainnya adalah sebagai pemilik gadget, kita dapat bebas menentukan apa saja gadget yang dibutuhkan dan juga software serta aplikasi yang nantinya bermanfaat untuk perusahaan. Dengan begitu, karyawan tidak perlu harus belajar dari awal untuk dapat beradaptasi dengan software dan aplikasi yang sudah ditentukan perusahaan.

(Baca Juga: Nostalgia Melihat Peralatan Kantor Jaman Dulu, Ini yang Eksis di Zamannya!)

Kontra

Meskipun terlihat menyenangkan dengan fenomena BYOD ini, ada beberapa kekurangan-kekurangan yang perlu diperhatikan berikut ini.

1. Perawatan gadget tanggung jawab pemilik

Kekurangan dalam menggunakan gadget pribadi adalah pada bagian perawatannya. Berbeda dengan jika ada masalah yang menimpa pada gadget yang berasal dari kantor (dengan catatan kerusakan bukan karena faktor kesalahan teknis), biasanya pihak kantor lah yang akan menanggung biayanya.

Membawa Alat Kerja Pribadi
Image: WikiHow – Pinterest

Akan tetapi, ketika gadget kita mengalami kerusakan atau masalah, maka penanggung jawabnya adalah kita sendiri. Meskipun memang gadget tersebut digunakan untuk keperluan kantor, namun tetap saja gadget tersebut masih milik karyawan bukan milik kantor.

2. Pekerjaan bisa melebihi jam kerja yang ditentukan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ketika posisi kita sudah pulang ke rumah dan kita dapat kabar harus ada pekerjaan yang diselsesaikan hari itu juga, mau tidak mau kita harus mengerjakan tugas tersebut meskipun jam kerja sudah lewat. Untuk hal semacam ini perlu dibicarakan bagaimana teknis lemburnya kepada perusahaan.

3. Bercampurnya kepentingan pribadi dan kerja

Salah satu kekurangan yang cukup dirasakan ketika menggunakan gadget pribadi untuk keperluan kantor adalah sudah sulit membedakan kepentingan pribadi dan juga kepentingan kerja. Hal tersebut tentu saja mengganggu untuk orang-orang yang kesulitan dalam merapikan mana file-file pribadi dan mana file-file untuk kerja.

4. Rawan penyalahgunaan data

Bisa dibilang ini adalah kerugian dari pihak perusahaan. Ketika ada karyawan yang memilih untuk resign, maka otomatis semua data yang ada di dalam di komputer pribadi karyawan harus dikembalikan kepada perusahaan. Akan tetapi, tidak semua karyawan bisa senaif itu. Apakah perusahaan menjamin 100% data yang dikembalikan tidak diambil untuk kepentingan pribadi?

Apabila karyawannya memiliki niat yang buruk, dia bisa saja membocorkan file-file yang sifatnya rahasia perusahaan apalagi file-file tersebut berada di dalam gadget karyawan sendiri. Artinya tergantung bagaimana niat karyawan tersebut dan juga kebijakan perusahaan dalam menjamin data tersebut tidak dibongkar.

Jika kita melihat keuntungan dan kerugian dari penggunaan gadget pribadi untuk keperluan kantor masih perlu dikaji lebih dalam. Khususnya di Indonesia sendiri saat ini masih belum terlalu jelas aturan-aturan yang ditetapkan mengenai permasalahan membawa alat kerja pribadi ini.