Menawannya EcoARK, Gedung dari Sampah Botol Plastik yang Tahan Gempa

Gedung dari Sampah Botol Plastik

Pernahkah Anda bayangkan berapa banyak kebutuhan botol plastik di dunia dalam sehari? Bagaimana kalau sebulan atau bahkan setahun? Tentu bertriliun-triliun botol plastik dibutuhkan. Bahkan Indonesia yang masuk dalam jajaran negara pengguna botol plastik di dunia mengalami permintaan kebutuhan botol plastik hingga 7 persen tiap tahun.

Berbagai cara diterapkan untuk menekan penggunaan botol plastik, dari pengenaan bea cukai hingga menggalang gerakan 3R reduce, reuse dan recycle. Botol plastik bisa diubah dalam berbagai bentuk agar dapat digunakan kembali. Tujuan lainnya yaitu agar dapat mengubahnya menjadi kerajinan tangan menarik sehingga dapat terpakai dengan fungsi baru. Lalu bagaimana bila mengubahnya menjadi dinding gedung tinggi bertingkat?

Gedung EcoArk 9 Lantai dengan 1,5 Milyar Botol

Gedung dari Sampah Botol Plastik
Image: @nihaoglobal – Twitter
Gedung dari Sampah Botol Plastik
Image: Basural
Gedung dari Sampah Botol Plastik
Image: Casette Blog

Di daratan China sana tepatnya di Taipei, ternyata ada seorang arsitektur jenius yang mampu merubah sampah plastik terutama yang berbentuk botol bekas menjadi sebuah gedung tinggi dengan 9 lantai.

Arsitektur China yang bernama Arthur Huang ini mendapat mandat dari Fat Eastern Group sebagai produsen botol plastik dunia yang memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran akan limbah plastik di Taipei.

Maka dirancanglah sebuah bangunan atau gedung yang ramah lingkungan atau eco friendly. Di balik itu semua, ternyata gedung yang dimaksud membutuhkan 1,5 milyar botol plastik bekas agar dapat terbentuk sebuah gedung dengan struktur dan susunan yang berkualitas.

Kebutuhan plastik yang begitu banyak digunakan sebagai materian penyusun utama gedung. Bahkan dari luar botol plastiknya terlihat begitu kentara. Fasad gedungnya juga mencerminkan penggunaan plastik yang sangat ikonik.

Tahan Gempa

Menjadi sebuah pencapaian yang fantastis, di mana gedung berdesain botol plastik bekas ini ternyata mampu berdiri tegak dan kokoh melawan beragam bencana, seperti guncangan gempa, kebakaran, badai dan goncangan angin kencang berkekuatan 130 km/jam sekalipun. Inilah salah satu gedung tahan gempa yang dibuat dari bahan yang tak pernah disangka sebelumnya.

Ternyata bukan tanpa alasan kenapa gedung ini menggunakan botol plastik bekas. Karena setelah botol-botol plastik itu dihancurleburkan. Maka plastik yang didaur ulang itu membentuk hexagonal seperti patern yang dapat direkatkan satu sama lain menjadikannya bata polli-brick.

Bata polli-brick ini saling mengunci satu sama lain dikarenakan bentuknya yang seperti lego. Dan untuk menyangganya agar kokoh, diberi pelapis tahan air dan lelehan besi baja sebagai penguat.

(Baca Juga: Pasona Group, Gedung Kantor Unik Yang Bisa Berkebun Sekaligus Bercocok Tanam)

Kini, gedung yang lebih dikenal dengan sebutan EcoArk ini menjadi gedung serba guna dan dijadikan tempat pameran tumbuhan skala internasional di Taipei. Bisa dilihat bahwa paviliun depannya dikerjakan dengan menggunakan low carbon system untuk meminimalisasi bekas-bekas paparan karbon selama masa pengerjaannya di tahun 2010.

Selain itu, bangunan ini memang dirancang oleh sosok arsitek ternama yang tergerak akan kepedulian lingkungan. Bisa dilihat dari ventilasi gedung ini, di mana tidak terdapat AC layaknya gedung pada umumnya. EcoArk khusus menggunakan jendela dan pintu lebar yang menjadi jalur sirkulasi udara alami agar masuk ke dalam gedung.

Penginsulasian panas pun perlu mendapat acungan jempol, karena setiap bata polli-brick ini dapat mengurangi laju perpindahan panas matahari yang menyengat di kala siang hari. Selain dari itu dapat mengurangi temperatur udara di siang hari pada musim panas.

Gedung dari Sampah Botol Plastik
Image: Casette Blog

Mampu Sediakan Air Alami

Satu lagi, ketersediaan air untuk penghuni gedung saat digunakan, Arthur Huang telah mendesain tempat cadangan air yang berasal dari kucuran air hujan yang dikumpulkan. Manakala diperlukan cadangan air tersebut, dapat digunakan setelah mengalami proses filterisasi dengan kualitas baik.

Selain dapat dipergunakan untuk keperluan para penghuninya, kucuran air hujan yang ditampung di screen waterfall ini pun memiliki fungsi sebagai penyejuk ruangan.

Sebagai managemen pencahayaan, gedung ini mengandalkan ketransparanan botol plastik yang dapat ditembus oleh sinar matahari sepanjang siang. Untuk memberikan energi listrik yang dapat membuat 40.000 lampu LED menerangi di saat malam hari, dipergunakanlah energi alami dari matahari dan angin.

Walaupun didirikan dengan menggunakan botol-botol bekas, bukan berarti tampak lusuh dan kumuh. Biaya yang dipergunakan untuk membangun gedung ini menembus angka yang sangta fantastis, yakni sekitar US$ 3 juta atau jika dikonversi menjadi Rupiah sebanding dengan 39 milyar.

Gedung ini mampu dipergunakan sebagai pameran Flora Expo, yang notabene dipijaki ratusan pasang kaki. Namun ternyata berat gedung ini hanya setengahnya dari berat bangunan seukurannya. Dan yang lebih mengagumkannya lagi, ternyata gedung ini diklaim dapat dipindahtempatkan.

Diharapkan dengan adanya inovasi yang brilian ini mampu menginspirasi masyarakat luas agar dapat menerapkan 3R di atas. Di mana 3R merupakan istilah yang mengungkapkan bagaimana cara kita mendaur ulang dan memanfaatkan semaksimal mungkin keberadaan limbah sampah plastik yang kita konsumsi sehari-hari.

Reduce sebagai istilah untuk mengurangi bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reuse adalah cara menggunakan kembali bahan-bahan yang dapat dipakai berulang kali. Dan recycle untuk menggambarkan sebuah aksi positif mendaur ulang barang. Salah satu contoh besarnya adalah Gedung EcoArk ini sebagai bukti dari slogan recycle.

Di belahan dunia manapun, yang namanya sampah selalu hadir di setiap aktifitas manusia. Semua pakar berlomba untuk menelurkan ide-ide brilian yang mampu meminimalisasi setiap kehadiran sampah terutama sampah plastik.

Menurut penelitian ternyata untuk menghancurkan sebuah plastik diperlukan ribuan tahun agar plastik tersebut dapat melebur dengan tanah. Jadi terbayang kah, jika hari ini kita membuang sampah plastik, butuh beberapa tahun ke depan lamanya agar plastik tersebut dapat hancur.