Mengenal Konsep Budaya Kerja di Jepang, Benarkah Mereka Pekerja Keras?

Budaya Kerja di Jepang

“Kerja, kerja, kerja!”

Begitulah slogan Presiden Indonesia yang sempat menggema beberapa tahun terakhir. Menekankan bekerja untuk negeri, demi kontribusi atas kemajuan dan tahan banting menghadapi dinamika pasar. Namun, slogan ini justru telah tertanam pada masyarakat Jepang. Ada apa dengan masyarakat Indonesia?

Budaya kerja di Jepang telah mengakar sejak dahulu. Mulanya, Jepang pernah menggapai masa jaya pada era Restorasi Meiji dibawah kekuasaan Kaisar Hirohito. Tahun demi tahun berlalu, masyarakat pada saat itu terbiasa hidup nyaman karena disediakan oleh kerajaan. Pun cenderung agak tertutup dari budaya luar karena ingin menjaga nilai-nilai budaya yang berlaku saat itu.

Sejarah Munculnya Budaya Kerja Jepang

Tentunya, budaya kerja ini perlahan muncul ketika para pelajar Jepang keluar negeri untuk belajar ke negeri tetangga, Cina, terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan sistem penulisan karakter. Selain itu, Jepang mulai membuka diri agar pengetahuan cepat masuk dan juga bisa “meniru” kerja keras orang-orang yang ada di luar negara mereka sendiri. Ini semua ditunjukkan dengan penemuan-penemuan, misalnya kertas dan pengobatan tradisional.

Penemuan seperti ini semakin menambah rasa ingin tahu masyarakat Jepang dan bekerja lebih keras agar tak tertinggal. Hingga tiba saatnya Perang Dunia 1 dan 2, kekaisaran mengerahkan armada militer dan bekerja keras untuk mempertahankan kekuasaan negara dengan nilai “Jepang cahaya Asia”.

Kuatnya kemiliteran Jepang tak lepas dari kerja keras masyarakat setempat, juga doktrin kekaisaran demi mempertahankan negara dan kekuasaan seluas-luasnya. Masyarakat diminta bekerja sepenuh hati hingga waktu yang tak ditentukan. Pun inilah yang juga mengakar pada masyarakat Jepang bahwa bekerja keras yang tulus dan total adalah kunci kemenangan.

Berbeda ceritanya ketika armada militer Jepang kalah pada Perang Dunia 2. Memang, seluruh kekuatan telah dikerahkan. Bekerja pun sudah sangat keras hingga mengorbankan jiwa. Kekalahan ini kebetulan disebabkan peralatan militer yang tidak secanggih dan masif milik Amerika Serikat. Bom nuklir yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki pun nyaris meruntuhkan semangat dan kepercayaan diri masyarakat Jepang.

Budaya Kerja di Jepang
Image: Brilio.net

Lantas, apakah budaya “kerja, kerja, kerja” ini akan hilang pada masa itu? Tentu tidak. Bangkitnya para pendidik di Jepang dan kesadaran masyarakat untuk hidup lebih baik adalah salah satu batu loncatan Jepang menjadi negara maju hingga saat ini.

Di tengah kerusakan dahsyat dan tekanan-tekanan, masyarakat Jepang tetap bekerja keras sampai berubah menjadi lebih baik. Sampai kini, perubahan itu melesat menjadi yang paling pertama, terlebih di sektor teknologi dan ilmu pengetahuan.

Budaya Kerja Tak Selalu Baik

Budaya Kerja di Jepang
Image: beyonder.asia

Budaya kerja keras ini apakah akan selalu baik? Belum tentu. Tidak heran, bila masyarakat dunia menilai bahwa orang Jepang gila bekerja. Ditandai dengan banyaknya kasus bunuh diri, perasaan kesepian, angka kelahiran rendah, angka kematian tinggi akibat kecelakaan kerja atau kelebihan jam kerja, dan sebagainya.

Orang Jepang juga dianggap terlalu fokus bekerja hingga lupa bersosialisasi. Melihat fenomena ini dari pemberitaan media Barat, budaya kerja keras orang Jepang tidaklah selalu baik bagi masyarakat dunia lain, khususnya masyarakat Indonesia.

Namun, tak ada salahnya bila masyarakat Indonesia mengenal konsep budaya kerja masyarakat Jepang. Hal ini demi mencapai keseimbangan hidup dan kerja (work-life balance) yang akhir-akhir ini sering digaungkan.

(Baca Juga: Bahaya Stres Bagi Karyawan Kantoran dan Strategi Mencegahnya)

Konsep Budaya Kerja Jepang

Berikut ini adalah konsep budaya kerja masyarakat Jepang. Mari mengenal bersama!

1. Prinsip Mura no guruppu (村のグループ)

Prinsip yang disebut “village relationship” ini sama halnya gotong-royong yang lazim pada masyarakat Indonesia. Masyarakat Jepang yang khas nilai ketimuran, masih menjunjung prinsip ini demi mencapai kerja bersama yang efektif. Secara sederhana, prinsip ini muncul pada kerjasama tim.

2. Prinsip Samurai

Prinsip samurai identik dengan sikap pantang menyerah demi menjaga muka dan harga diri. Wujudnya berupa kerja keras untuk membangun kekuatan ekonomi dan politik global, dan citra diri di mata dunia internasional.

Implikasinya, prinsip ini tertanam kuat pada masyarakat Jepang dalam berhubungan dengan masyarakat internasional untuk segala urusan. Termasuk di dalamnya urusan bisnis. Untuk pejabat negara sendiri, prinsip ini dipegang teguh untuk memperkuat daya tawar negara Jepang di mata dunia internasional.

3. Prinsip Kaizen

Prinsip ini mengandung arti “berubah menjadi baik”. Prinsip inilah yang membuat masyarakat Jepang tidak cepat berpuas diri dan selalu semangat dalam bekerja dan menjalani hidup. Di dunia kerja, prinsip ini melahirkan tindakan kontinuitas dalam meningkatkan proses produksi, kualitas kerja, barang, dan jasa, maupun menghemat biaya operasional.

Prinsip ini pada akhirnya juga melahirkan pembagian waktu kerja yang seimbang dan pada tempatnya karena menekankan “berubah menjadi baik”. Meskipun demikian, pembagian kerja ini belum tentu sanggup dilakukan oleh masyarakat Jepang sendiri yang masih gila bekerja, tunduk pada senioritas, dan mendewakan atasan.

4. Prinsip Keishan

Prinsip keishan terdiri atas kesungguhan dan kemauan terhadap suatu hal. Jika dipraktikkan, prinsip keishan mengajak seseorang agar lebih bersungguh-sungguh dan total terhadap pekerjaan dengan minat dan keyakinan yang dimiliki.

Keyakinan dan minat ini menimbulkan kemauan individu untuk belajar pengalaman dari banyak orang. Sehingga bisa memperkaya diri dan membuatnya menjadi lebih kreatif, inovatif, dan produktif.

5. Prinsip Bushido

Prinsip paling dasar yang bisa melengkapi prinsip-prinsip sebelumnya adalah bushido, yang artinya semangat bekerja keras dengan tulus. Konsep ini juga mengarah ke nilai-nilai moral samurai di mana sifat kesederhanaan, kesetiaan, dan kehormatan sampai mati sangat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lima prinsip dalam budaya kerja di Jepang perlahan membuat kehidupan kerja semakin sengit. Terlebih, prinsip-prinsip ini mengandung nilai mulia ke arah lebih baik. Namun akan lebih baik bila seseorang mampu menyeimbangkan antara kehidupan kerja dan sosialisasi.