Menilik Gaya Pakaian Kantor Millennial: Bebas, Merdeka And Fashionable

Gaya Pakaian Kantor Millennial

Milenial identik dengan pemberontakan yang pede. Kaum bermayoritas usia muda dengan kisaran lahir tahun 1989-1996 ini masuk dalam masa produktif kerja. Para pekerja milenial, tentu berbeda dinamikanya bila dibanding dengan generasi sebelumnya. Arus teknologi dan informasi yang begitu cepat menjadi salah satu penyebabnya.

Trauma di masa lalu soal anggapan kerja yang membosankan, berpakaian rapi: bersepatu dan berdasi, jam ketat adalah beberapa hal yang tak ingin diulang generasi millennial. Demi menghilangkan itu semua, generasi milenial akan bergaya kasual demi mencapai kenyamanan dan kebebasan berekspresi, sekalipun di ruang kerja.

Tren Busana Generasi Millennial

gaya pakaian kantor millennial

(Image: newsroom-publicismedia.fr)

Gaya kasual a la milenial ke kantor menjadi tren busana kerja. Mengandalkan kaus oblong, hoodie, sweater, parka, kemeja santai, celana jins, dan sepatu sneakers, ternyata berpengaruh pada “aturan” busana kerja pada umumnya. Baju tersebut melambangkan pemberontakan atas sistem yang ada, namun memiliki sikap, komitmen, dan etos kerja yang sama tingkat dengan para pekerja formal.

Bahkan muncul simbol, pekerja berbusana kasual lebih terlihat capaian kinerjanya dari pada yang licin dan rapi jali. Atau profesor brewokan, gondrong, berpakaian kasual dianggap lebih mempesona, seksi, dan pintar dibanding yang rapi.

Selain itu, baju dengan gaya kasual identik dengan pekerja di industri teknologi dan kreatif. Bahkan pekerja di industri startup biasa bergaya kasual, pun untuk pekerja di Silicon Valley, Amerika Serikat.

(Baca Juga: Mari Intip Tampilan 5 Kantor Startup yang Jadi Idaman Millennials)

Dalam arti, gaya baju seperti ini mengutamakan kenyamanan dan ekspresi. Fenomena yang disebut “red sneakers effect” dicetuskan peneliti di Harvard Business School. Melalui riset yang dimuat di The Journal of Consumer Research, fenomena ini mempengaruhi persepsi bekerja terhadap pakaian orang lain.

Didukung oleh artikel “Dress Codes: Suitable Disruption” yang dimuat di The Economist, memaparkan bahwa saat pekerja menelanjangi tampilan artifisalnya, mereka bisa jujur terhadap pekerjaannya. Bisa disimpulkan, makin kasual gaya pakaian, menjadi tanda komitmen untuk bekerja lebih baik. Karena poin pentingnya adalah kenyamanan dan etos kerja.

Berpakaian kasual bisa dianggap sebagai kemerdekaan pekerja dalam berpakaian. Hal ini juga berhubungan dengan mencapai kebebasan berekspresi di tempat kerja.

Menurut kaum milenial, mereka bisa lebih maksimal bekerja karena “sepantaran”. “Sepantaran” dilihat dari aspek pekerja yang berumur sebaya atau masih dianggap muda, cara berpakaian, cara berinteraksi, dan kesempatan mengajukan ide. Sehingga kaum milenial merasa “bahagia” saat mengerjakan dan mengembangkan proyek, asal panduan kerja jelas dan detail.

Etos Kerja Generasi Millennial

Gaya Pakaian Kantor Millennial

(Image: business-review.eu)

Menariknya, selain pada tampilan fisik yang cenderung memberontak anggapan lama, generasi millennial juga punya sejumlah gagasan menarik mengenai kerja. Gagasannya bisa dibilang berbeda dengan generasi sebelumnya.

  1. Tak terlalu banyak ekspektasi

Kaum milenial adalah kaum yang memusatkan pikiran untuk hidup saat ini. Ketika mereka mempersiapkan masa depan, yang dilakukan justru bekerja cerdas dan komitmen agar bisa mencapai keseimbangan kerja dan hidup (work-life balance).

Pekerjaan yang akan atau sedang dihadapi tentu memiliki tantangan sendiri. Dengan mengurangi ekspektasi, maka akan lebih banyak bertindak dan beraksi, dari pada hanya terlalu banyak merencanakan namun takut mengeksekusi. Tetaplah pertimbangkan resiko yang ada.

  1. Tetap santai dan terbuka

Kebanyakan kaum milenial di kantor adalah tipikal yang santai dan terbuka. Walau tidak semua, tetapi itu adalah cara untuk berbaur dengan rekan sesama.

Kuncinya, tetap pada mengurangi ekspektasi pada hal-hal yang tidak perlu. Ini dilakukan agar tidak stres sendiri di kantor dan bisa menyaring mana hal yang butuh dan yang tidak.

Jangan lupa, tetaplah berinteraksi. Komunikasi sangat dilatih jika bekerja bersama kaum milenial.

(Baca Juga: Saatnya Mengenal Konsep Kerja Generasi Millennial Saat Ini)

  1. Gaya kasual supaya nyaman

Akibat pembawaan kaum milenial yang santai, terbuka, kooperatif, bahkan selektif, gaya berpakaian pun juga turut mempengaruhi.

Tidak ingin ribet, enggan tampil formal, itu adalah kunci gaya milenial ke kantor. Rasa nyaman nomor satu karena mereka bergerak dinamis dan kerap menghabiskan waktu di luar. Gaya kasuallah yang membantu agar mencapai rasa nyaman.

Pakaian Kerja Generasi Millenial

Gaya Pakaian Kantor Millennial

(Image: accountingweb.com)

Apakah hanya bermodal celana jins, sepatu sneakers, dan kaus oblong saja saat bekerja? Tentu saja tidak. Yang ada, dicap tidak niat kerja.

Gaya kaum milenial, baik laki-laki dan perempuan punya ciri khas tersendiri. Untuk perempuan, beruntungnya bisa fleksibel bergaya a la tomboy atau feminim. Untuk laki-laki sendiri, biasanya cukup mengandalkan kaos oblong, kardigan atau semi blazer pria, dan sepatu sneakers.

Yang paling banyak tentu saja mengenakan kemeja santai plus celana jins. Pakaian satu ini adalah favorit sejuta umat milenial. Selain praktis, tapi juga cukup fleksibel dipakai di situasi tertentu, entah itu acara semi-formal atau pergi ke kantor.

Bagi kaum milenial berhijab, gaya pakaian satu ini sangat digemari. Pasalnya, kehadiran kardigan tanpa lengan bisa menutupi lekuk tubuh dan menambah kesan anak muda. Siapa sangka, banyak orang yang masih mengira kalau gamis hanya untuk ibu-ibu saja lho.

Bagi kaum milenial yang bekerja di sektor formal seperti firma hukum, bank, perusahaan korporasi non startup. Alternatif gaya pakaian bisa pilih mengenakan kemeja warna netral, sweater, rok lipit lebar atau celana pantalon atau celana bahan dipadu dengan sepatu sneakers bisa menjadi pilihan tepat.

Pakaian gaya ini memberi kesan smart casual namun masih tetap masuk di suasana formal dan semi-formal.

Akhirnya

Yang paling penting dari apa yang kita kerjakan adalah hasilnya. Tak peduli pakaian apa yang anda kenakan. Bahkan di Google, Anda berhak tidak berpakaian sekalipun saat Anda bekerja. Asal Anda tetap sadar akan norma yang berlaku.