Oversupply 2018 Sebabkan Okupansi Perkantoran 2019 Akan Semakin Melemah

Sepanjang tahun 2018, bisnis perkantoran masih belum banyak berubah. Sekalipun aktivitas sewa menyewa mulai meningkat, tingkat hunian gedung perkantoran masih rendah. Diprediksi tahun 2019, okupansi perkantoran malah akan semakin melemah.

Adalah Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia yang mengatakan bahwa sampai saat ini belum tercipta kesinambungan antara jumlah pasokan yang masuk dengan aktivitas sewa menyewa. Jumlah gedung baru yang dibangun tahun ini lebih banyak dibanding dengan daya serap penyewa gedung.

Sehingga Ferry memperkirakan bahwa tingkat hunian perkantoran masih akan turun hingga akhir tahun. Tingkat okupansi bahkan akan terus melemah. “Jika pada kuartal III okupansi 82% di CBD, maka setidaknya di akhir tahun okupansi akan menjadi 80%, mengingat adanya tambahan suplai baru.”

Okupansi Perkantoran 2019 Semakin Melemah
Image: Unsplash

Okupansi Melemah Bakal Berlanjut

Okupansi yang terus melemah bakal berlanjut hingga tahun 2019. “okupansi di Jakarta masih belum akan bagus karena suplai tetap tinggi.” terang Ferry yang baru memperkirakan kondisi akan membaik pada tahun 2020.

Tahun 2020, kondisinya mulai membaik. Hal ini dikarenakan jumlah suplai mulai berkurang. Sedangkan beberapa perusahaan yang masih “wait and see” selama tahun politik baru akan mengeksekusi rencana ekspansinya pada tahun tersebut.

Menurut data Colliers, kondisi ruang perkantoran di Jakarta sampai dengan saat ini masih oversupply. Pasokan baru yang berada di CBD (Central Business District) selama 2018 mencapai 611.377 meter persegi. Ini adalah jumlah pasokan tertinggi sepajang masa. Lalu di luar CBD, pasokan mencapai 172.569 meter persegi pada akhir tahun.

(Baca Juga: 2018 Menjadi Tahun Turunnya Okupansi Perkantoran di Jakarta)

Sementara untuk daya serapnya, pada akhir tahun untuk area CBD bakal terserap sekitar 300.000 meter persegi. Itu artinya bakal ada suplai yang berpindah ke tahun 2019. Suplai baru sisa tahun 2018 yang masuk ke tahun 2019 mencapai 200.000 meter persegi.

Dengan adanya tambahan dari tahun ini, maka total pasokan pada tahun 2019 diperkirakan mencapai 500.000 meter persegi. Sedang perkiraan permintaan hanya sekitar 250.000 sampai 300.000 meter persegi. Itu artinya, “kondisi tahun depan juga masih akan tertekan,” terang Ferry.

Inquiries Meningkat

Meski okupansi terus mengalami penurunan, tetapi inquiries atau pernyataan minat meningkat seperti yang dialami oleh Ciputra Group.

Ciputra Group mengakui bahwa sejak akhir tahun 2017 hingga saat ini belum ada perubahan signifikan terkait okupansi perkantoran. Tetapi gedung-gedung perkantoran milik Ciputra mendapat inquiries yang cukup besar.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Direktur Ciputra Group Artadinata Djangkar bahwa jumlah inquiries yang ditangani Ciputra Group mencapai peningkatan yang signifikan pada tahun 2018. Peningkatan inquiries terutama terjadi pada sektor asuransi, e-commerce, serta perusahaan-perusahaan kecil yang awalnya berkantor di ruko kini beralih ke office building.

Pernyataan minat yang berasal dari perusahaan kecil selama ini berkantor di ruko mengalami jumlah kenaikan yang besar karena terjadi perubahan perilaku. Menurut Arta, jika dulu ruko laku sekali, nyatanya perlahan-lahan mulai pindah ke office building, terutama pindah ke wilayah non central business district (CBD).

Inquiries sewa kantor yang ingin pindah dari ruko didapat Ciputra Group untuk proyek perkantoran Ciputra International Puri. Hanya saja, sekalipun inquiry naik, Arta masih belum bisa memperkirakan kapan keputusan transaksi akan terjadi.

Hal ini berbeda dengan inquiries yang datang dari sektor asuransi, dimana meningkat karena sektor tersebut sedang banyak melakukan pembukaan kantor-kantor baru. Sedangkan untuk e-commerce memang saat ini sedang mengalami tren positif.