Pembangunan JB Tower Hampir Rampung, Tahun Depan Beroperasi

Pembangunan JB Tower

Kawasan Kebon Sirih bakal kedatangan gedung perkantoran baru. Setelah sebelumnya ada Grand Kebon Sirih setinggi 16 lantai dan beberapa gedung seperti gedung TRIO, Gedung lemHaNas, kini akan hadir JB Tower yang telah memasuki tahap finishing.

Sejak bulan Mei 2018, PT Mardhika Artha Upaya (MAU) selaku pengembang gedung perkantoran bertajuk Jakarta Box (JB) Tower telah melakukan prosesi tutup atap (topping off).

Pada saat itu, Direktur PT Mardhika Artha Upaya (MAU) Edi Susilo Widjaja mengatakan bahwa dengan proyek Pembangunan JB Tower dengan total investasi mencapai Rp 1,1 Triliun bakal rampung pada kuartal I 2019 dan sudah mulai bisa beroperasi pada kuartal III 2019.

Pembangunan JB Tower
Image: SewaKantorCBD Team

Mengusung Konsep Ramah Lingkungan

Gedung yang terletak di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Pusat ini, mengusung perpaduan konsep. Tak hanya mengusung konsep ramah lingkungan, melainkan juga menempatkan kultur khas Betawi yang bisa dilihat dari desainnya. Pengembang percaya, nantinya gedung JB Tower bakal menghasilkan perpaduan harmoni antara modernitas, kultur tradisional Betawi dan ramah lingkungan yang tak sekadar ornamen penghias semata.

JB Tower masuk dalam gedung kategori grade A yang dibangun di atas lahan seluas 5.816 meter persegi. Tersedia perkantoran sewa dengan luas total area hingga 35.000 meter persegi. Selain itu juga tersedia 3.000 meter persegi sebagai pusat ritel dan 1.500 meter persegi digunakan untuk ruang terbuka hijau (RTH).

Dari segi pembangunan, JB Tower menurut Wahyu lebih mahal bila dibandingkan dengan pembangunan gedung pada umumnya. Tetapi biaya perawatannya lebih murah. Bahkan mampu menghemat energi hingga 70 persen. Rendahnya biaya perawatan, tentu bakal berpengaruh pada jumlah biaya yang musti dikeluarkan para penyewa setiap bulan.

Pembangunan JB Tower
Image: SkyscraperCity

Masih berdasarkan keterangan Wahyu, “gedung menggunakan double glass yang bisa menahan panas sinar matahari”. Sehingga beban pendingin udara jadi lebih ringan dan akhirnya menghemat pemakaian listrik.

Pada area parkir, JB Tower ditutup dengan alumunium panel berlubang sebagai ventilasi udara. Penghematan energi juga dilakukan pada bagian pemanfaatan air hujan. Gedung ini memiliki penampungan air hujan (water harvesting).

Hasil Afiliasi Banyak Pengembang

Pembangunan JB Tower merupakan hasil kolaborasi berbagai perusahaan terbaik di bidangnya. Salah satunya adalah Asiacross Group Indonesia yang tidak lain adalah grup PT MAU bersama Asiawide Group.

Perlu diketahui Asiawide Group adalah perusahaan asal Singapura yang telah berafiliasi dengan Asia Quest Group Malaysia. Pengembang ini terkenal melalui berbagai proyek pengembangan gedung tinggi (high rise) yang ada di Singapura, China dan Malaysia.

Dari fasad gedung, JB Tower terlihat seperti kumpulan kotak yang disusun menjulang tinggi ke atas untuk menggambarkan bahwa bisnis harus terus berkembang dan terus bertumbuh. Lokasinya berdekatan dengan Monas yang tidak lain adalah simbol kota Jakarta. Sehingga tak salah bila JB Tower dibuat kental sekali dengan aksen budaya Betawi. Terutama bila dilihat dari ornamel ondel-ondel dan abang-none yang mengelilingi gedung.

Selain ramah lingkungan, struktur bangunan diklaim mampu tahan gundangan gempa hingga 8,5 skala richer. Sebagai gedung grade A, JB Tower mematok harga sewa gedung (asking price) rata-rata sebesar Rp 300 ribu permeter persegi/bulan.

Targetnya, gedung bakal terisi 60 persen saat beroperasi pada kuartal III 2019 nanti. Apalagi menurut Darsono Tan, Direktur Leads Property pada bulan mei 2018 sudah ada komitmen menyewa mencapai 20 persen.

Ia menargetkan hal itu berdasarkan kenyataan bahwa tingkat okupansi di wilayah Kebon Sirih masih tinggi, bahkan di atas 89 persen. (Source: SWA)