Pertumbuhan Co-Working Space di Jakarta “Selamatkan” Bisnis Perkantoran

Pertumbuhan Co-Working Space

Tahun 2018 masih jadi tahun yang kurang baik untuk usaha sewa kantor. Tingkat okupansi masih terus tertekan. Kondisi demikian juga masih akan berlanjut di tahun 2019. Terutama karena ada perpindahan pasokan dari tahun 2018 ke 2019, sehingga terjadi yang namanya over supply atau kelebihan pasokan.

Kondisi semacam ini dimanfaatkan oleh para pengusaha co-working space. Usaha co-working space di Jakarta jadi semakin melimpah. Tetapi siapa sangka, usaha yang awalnya bakal menjadi pesaing utama bisnis ruang perkantoran, nyatanya ditanggapi berbeda oleh banyak lembaga survei ruang perkantoran di Tanah Air.

Menurut banyak lembaga survei, menjamurnya bisnis co-working space di Jakarta itu tidak mengancam bisnis ruang perkantoran. Malahan bisa berjalan bersama. Adanya co-working space malah bisa membuat penyerapan ruang perkantoran yang ada di pusat-pusat bisnis Jakarta yang tingkat kekosongan mencapai 25 persen.

Pasokan Ruang Co-Working Space di Jakarta Terus Bertambah

Sama seperti tingkat kekosongan ruang perkantoran yang meningkat dari 21 persen pada tahun kemarin, kini menjadi 25 persen. Para pemain bisnis co-workingini terus bertambah setiap tahunnya. Ada yang datang dari dalam negeri dan juga banyak pemain yang dari luar negeri.

Beberapa pemain baru bahkan sangat agresif. Mereka dengan cepat menambah outlet agar menambah market share. Beberapa juga dengan sigap menggembangkan bisnis co-working space ke kota-kota besar di luar Jakarta. Bandung, Surabaya, Jogja adalah beberapa kota besar yang tingkat pertumbuhan co-working spacenya bagus.

Diakui oleh banyak lembga survei bahwa saat ini kita memang ada pada tahap penjajakan. Kita sedang ada dalam tahap mencari tahu sebenarnya seberapa besar market co-working space di tahan air. Tetapi yang pasti mereka percaya bahwa jumlah pasar co-working space di tanah air ada banyak dan akan terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

(Baca Juga: 7 Co-Working Space Unik di Jakarta)

Dilihat dari kategori penyewa, kebanyakan yang menggunakan co-working space adalah perusahaan baru, yang baru merintis. “Jenis perusahaannya biasanya yang baru dibuka seperti start-up,” ungkap salah satu lembaga survei di tanah air.

Co-working space adalah bekerja bersama dalam satu ruang kantor terbuka. Konsep ini mengedepankan konsep sharing atau berbagi. Kemunculanya di tanah air menjadi alternatif yang hemat dan efisien bagi perusahaan yang baru merintis. Terutama karena harga sewa co-working space lebih murah bila dibanding dengan harga sewa perkantoran konvensional semakin mahal.

Jika dahulu kantor ada di service office atau virtual office. Hanya saja dua tempat tersebut punya harga sewa mahal. Sekarang ada opsi co-working space dengan harga lebih bagus dan lebih kompetitif. Dengan begini tenant bisa memilih ruang kantor yang tepat untuk perusahaanya sekaligus juga kondisi keuanganya.

Pertumbuhan Co-Working Space
Image: Rumah Hokie

Banyak Perkantoran Kosong, Harga Sewa Tertekan

Banyak survei menyebutkan bahwa tahun ini tingkat kekosongan ruang kantor akan terus meningkat. Salah satunya adalah pelimpahan dari tahun sebelumnya. Bahkan ada survei yang menyebutkan bahwa tingkat kekosongan bahkan mencapai hingga 30 persen, khusunya di ruang kantor grade A di pusat bisnis Jakarta.

Diakui bahwa penyerapan memang meningkat, tetapi jangan lupa vacancy masih banyak. Kondisi ini bahkan sudah terjadi sejak tahun 2015. Dan  tentu ini menjadi tantangan bagi pemilik perkantoran yang berada di kawasan pusat bisnis.

Tingkat kekosongan ruang perkantoran (okupansi) yang terus melemah akan menekan harga sewa di tahun ini. Menurut salah satu lembaga survei kondisi semacam ini bisa menjadi kesempatan para tenant melakukan negosiasi harga atau ekspansi ruang kantor. Pemilik gedung akan bersedia negosiasi demi tujuan mempertahankan tingkat okupansi yang mereka miliki.