Sejarah Menara Saidah, Kejayaan Itu Terlalu Singkat!

Sejarah Menara Saidah

Kalau Anda pernah membaca buku sejarah tentang masa Kerajaan Majapahit, rasanya tak akan pernah menyangka bahwa Majapahit akan runtuh. Wilayah kekuasaanya yang membentang hingga ke Malaysia nyatanya kini tak tersisa. Begitu pula dengan cerita sejarah Menara Saidah, kejayaan yang berakhir amat sangat singkat. Tak lebih dari enam tahun.

Lebih dari tiga belas tahun sudah bangunan bergaya Romawi yang terletak di Jl. Gatot Subroto, Jakarta sudah tak lagi beroperasi. Dahulu gedung itu merupakan salah satu gedung mewah yang menjadi pusat perkantoran di lokasi strategis tepat di jantung kota Jakarta. Namun siapa sangka, gedung yang baru diresmikan pada 2001, enam tahun kemudian menjadi gedung kosong tidak berpenghuni.

Kini kondisinya mengenaskan, kondisi beberapa lampu taman pecah, warna yang memudar dan mengelupas, kaca tak lagi mengkilap. Pada malam hari bahkan tak ada satu lampu pun yang berpijar di dalam gedung.

Sejarah Menara Saidah

Sejarah Menara Saidah
Image: Instagram.com/lloydjerry

Padahal dahulu, Menara Saidah adalah gedung komersil yang menjadi bangunan perkantoran, acara pernikahan, gedung meeting sampai acara formal sekalipun. Bangunan ini memiliki pilar besar pada bagian depan lobi utama, dengan 28 lantai. Setiap lantai dihuni oleh berbagai macam perusahaan baik swasta maupun pemerintah.

Gedung ini didirikan oleh keluarga pengusaha sukses yaitu Saidah Abu Bakar Ibrahim. Di mana salah satu keluarga ini adalah suami artis ternama Inneke Koesherawati.

Pembangunan gedung sendiri dimulai pada tahun 1995 oleh perusahaan lamanya dan pada tahun 1998 bangunan tersebut dibeli oleh keluarga Saidah. Sejak saat itulah dilakukan renovasi besar – besar terhadap gedung dan bangunan, dan mulai diresmikan tahun 2001.

Sebelum berganti nama menjadi Menara Saidah, gedung tersebut bernama Gedung Gracindo yang dimiliki oleh grup Mustika Ratu atau dikenal dengan mana Muryati Soedibyo. Secara fisik gedung ini terlihat sangat mewah, banyak terdapat patung – patung besar bergaya Roma menghiasi ruangan internal dan juga eksternal gedung.

Patung tersebut sengaja diimport dari Italia, sebagai bentuk dekorasi mewah klasik. Menara Saidah sangat indah juga menarik di masanya, terlebih lagi lokasinya sangat strategis berada di tengah kota dan mudah diakses oleh transportasi umum.

Kini Terbengkalai

Sejarah Menara Saidah
Image: Tribun News
Sejarah Menara Saidah
Image: Harian Moslem
Sejarah Menara Saidah
Image: Gogonesia
Sejarah Menara Saidah
Image: Ulas Misteri

Namun siapa sangka aktivitas yang dilakukan di Menara Saidah hanya beberapa tahun saja. Karena alasan tertentu pada tahun 2007 menara ini resmi ditutup. Beberapa informasi yang dirangkum oleh SewaKantorCBD.com dari berbagai sumber mengungkapkan bahwa penutupan Menara Saidah terkait dengan:

  1. Permasalahan pada konstruksi bangunan gedung menara, yang sejak awal memang sudah bermasalah. Diduga kontruksinya tidak dibuat secara benar.
  2. Kondisi pondasi gedung mengalami kemiringan beberapa derajat, yang menjadi permasalahan gedung menjadi tidak aman.
  3. Terjadi permasalahan internal manajemen Menara Saidah, adanya pengurusan manajemen yang tidak dikelola dengan baik juga terjadi kekisruhan kepemilikan saham.
  4. Harga sewa ruang kantor yang terlalu tinggi, membuat banyak investor enggan menyewa dan membeli lahan menara Saidah.
  5. Monitor dari Pemerintah, dengan mengirimkan surat instruksi kepada pemilik gedung untuk melakukan pemeriksaan konstruksi gedung atau audit konstruksi.
  6. Isu tentang pengelola gedung menara Saidah yang berpindah dan kepengurusan fasilitas yang tidak sehat, sehingga penyewa merasa kecewa.
  7. Terjadinya pemutusan hubungan kerja pegawai Menara Saidah tanpa mendapatkan pesangon yang jelas.
  8. Pada tahun 2017, terjadi tanah ambles di depan menara Saidah hal tersebut diakibatkan kondisi tanah dan juga bangunan yang tidak terurus dengan baik.

Walaupun sudah kosong beberapa tahun lamanya, sampai saat ini pihak polisi setempat, setiap pagi dan petang berpatroli untuk melihat kondisi menara. Pemilik terakhir menara Saidah dimiliki oleh suami artis Inneke Koesherawati yaitu Fahmi Darmawansyah.

Benarkah Faktor Mistis?

Namun dibalik sejarah tersebut, ada beberapa berita miring mengenai Menara Saidah. Banyak informasi yang beredar bahwasanya gedung tersebut menyimpan cerita mistis. Beredar cerita bahwa dulunya sebelum dibangunan gedung Menara Saidah, lahan tersebut merupakan pusat pemakaman umum, menurut saksi warga sekitar lokasi.

Pada saat pembangunan berlangsung ada sebagian warga yang mengatakan jika pemakaman belum sempat dipindahkan ke tempat lain. Pernah terjadi peristiwa tewasnya pegawai kontraktor yang membangun gedung tersebut pada awal pembangunannya.

Cerita mengenai keangkeran gedung dengan penghuni yang kasat mata, membuat banyak penyewa juga pegawai menara Saidah diganggu dan merasa ketakutan. Makhluk kasat mata yang fenomenal sampai saat ini yaitu hantu berpakain merah, yang katanya kerap menampakkan diri di lingkungan sekitar menara.

Belum lagi ada beberapa ruangan yang dipercaya memiliki aura yang cukup seram, hal ini dilansir dari beberapa informasi. Untuk mengetahui apakah kebenaran mengenai cerita mistis, hanya berdasarkan informasi warga yang berada di sekitaran menara.

(Baca Juga: 7 Gedung Terburuk di Dunia dengan Konsep Unik)

Kembali lagi, setiap orang memiliki kepercayaan yang berbeda, silahkan mempercayainya ataukah tidak. Namun, setiap gedung dan bangunan yang tidak berpenghuni akan terlihat lebih suram, hening, kotor, gelap, menyeramkan juga terkesan angker.

Yang pasti hingga detik ini gedung tersebut masih terbengkalai. Sempat beberapa investor yang menawar harga gedung, namun sayang gedung tersebut masih tidak berhasil dijual atau dibeli. Ada isu pula bahwa gedung akan dibongkar kembali, tetapi sepertinya itu hanya sekedar wacana belaka.

Begitulah sepenggal sejarah Menara Saidah, menara yang masih berdiri tegak, tetapi teramat suram dan tidak terawat. Jauh dari kemegahan yang dahulu begitu melekat pada gedung. Padahal gedung ini menempati lokasi yang strategis, tetapi begitulah hidup: selalu ada akhir dari sebuah kejayaan. (Source: Detik Finance)