Sisi Buruk Kerja di Perusahaan Startup Berbasis Teknologi

Sisi Buruk Kerja di Perusahaan Startup

Di Jakarta, perusahaan teknologi masih mendominasi kawasan CBD. Berbagai lembaga properti juga menyebutkan bahwa ruang kantor kawasan CBD Jakarta didominasi oleh perusahaan teknologi semacam online marketplace, fintech, online game, travel booking, dan lainnya.

Selain perkembangannya yang terbilang pesat, banyak pula para tenaga kerja terurama generasi muda (millennial) yang menargetkan bisa bekerja di perusahaan startup berbasis teknologi. Alasannya beragam. Tapi yang paling utama adalah sistem kerja yang dianggap fleksibel, tempat kerja menyenangkan, dan masa depan cerah. Namun di balik itu tetap ada kekurangan yang kerap terjadi pada pegawai kantor ini. Mari ketahui dulu sisi buruk kerja di perusahaan startup teknologi ini agar dapat kita siasati dengan baik ke depannya.

1. Penghasilan minim

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: europeanceo.com)

Bekerja di perusahaan startup yang bergerak dalam bidang apapun pada dasarnya sama, mereka sama-sama masih dalam tahap berkembang. Jadi jangan bayangkan Anda akan bekerja selayaknya di perusahaan besar. Dilihat dari penghasilan pasti jauh berbeda.

Perusahaan startup yang masih dalam pengembangan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk berbagai riset dan biaya operasional lainnya. Pemasukan juga masih belum stabil, sehingga tidak menutup kemungkinan karyawan akan mendapatkan gaji yang minim. Namun lain halnya jika startup tersebut sudah memiliki nama dan produk yang matang, hingga akhirnya memiliki investor dengan kelas apapun. Startup seperti ini justru terbilang berani untuk memberikan nilai gaji yang tinggi pada setiap karyawannya.

2. Waktu bekerja lama

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: lawdonut.co.uk)

Perusahaan yang masih rintisan membutuhkan usaha yang ekstra, baik memasarkan barang atau jasanya, mencari konsumen hingga mencari patrner perusahaan atau kolega. Untuk mewujudkan target tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Karyawan dituntut bekerja dalam jangka waktu yang lebih lama dari seharusnya.

Selain itu, ada tambahan jam lain untuk mengejar target lain yang sifatnya dadakan. Berbeda dengan perusahaan besar lain, untuk soal waktu sudah ada aturan yang jelas. Kalau terdapat tambahan waktu dihitung lembur dan penambahan penghasilan.

3. Masa depan karier belum jelas

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: 2mrwtrendz.com)

Setiap bekerja pasti memikirkan jenjang karier untuk kedepannya. Jika Anda bekerja diperusahaan startup akan memiliki resiko dalam jenjang karier. Perusahaan yang masih dirintis memiliki resiko yang tinggi.

Sewaktu-waktu bisa mengalami gulung tikur, walaupun tidak menutup kemungkinan perusahaan besar juga dapat mengalami permasalahan gulung tikar. Namun dilihat dari tingkat resiko, perusahaan startup memang memiliki kemungkinan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan belum terbentuk secara jelas kualitas dan branding nama yang memasar di masyarakat.

Namun tak dipungkiri juga adanya perusahaan baru atau startup yang namanya langsung melambung tinggi. Bekerja di startup memungkinkan Anda untuk dapat menduduki jabatan yang tinggi, misalnya seperti manager, kepala pusat, wakil direksi, dan lainnya. Namun, Anda juga patut waspada jika sewaktu-waktu posisi Anda terjatuh akibat kegagalan perusahaan dalam mempertahankan posisi.

4. Beban pekerjan yang tinggi

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: johnrichardmartin.com)

Perusahaan rintisan biasanya memiliki karyawan yang sedikit. Tujuannya bukan untuk menyederhanakan pekerjaan, melainkan untuk menghemat pengeluaran gaji. Kondisi ini berdampak pada beban pekerjaan yang tinggi pada karyawan. Satu orang tidak saja menangani satu jenis pekerjaan, bahkan bisa menangani bidang yang lain atau merangkap. Misalnya, administrasi akan merangkap dengan divisi humas, sekertaris merangkap dengan devisi marketing.

Beban pekerjaan ini tidak sebanding dengan gaji yang diterima. Penambahan jam atau lembur dalam perusahaan startup biasanya dihitung kerja biasa. Untuk Anda yang bekerja di perusahaan demikian jangan mengharap banyak uang lembur.

5. Struktur yang belum rapi

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: alltopstartups.com)

Kekuatan perusahaan salah satunya berasal dari internal. Ketika kuat di internal pasti akan kuat secara ekternal. Bagaimana perusahaan akan dapat berdiri tegak dalam berbagai persaingan global ketika di internal banyak perselisihan.

Dalam perusahaan startup sebagai perusahaan rintisan pasti akan rentan di internal. Biasanya antara satu lini dengan lini lainnya belum terjalin secara kuat. Terlebih jika melihat dari strukturnya, keputusan akan diambil oleh pemilik atau kepala perusahaan, sehingga akan menyebab koordinasi antar karyawan tidak teratur.

6. Fasilitas yang minim

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: Pixabay)

Bekerja di perusahaan startup jangan membayangkan disediakan fasilitas yang lengkap. Anda akan menemukan berbagai kendala dalam hal fasilitas bahkan harus memakai fasilitas yang bukan milik kantor. Anda harus mengorbankan barang pribadi untuk dijadikan fasilitas di kantor, contohnya menggunakan komputer milik pribadi dikarenakan persediaan di kantor tidak lengkap atau kurang memadai. Hal ini memang menjadi sesuatu yang lumrah bagi perusahaan startup.

7. Persoalan bonus yang belum rapi

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: fish4.co.uk)

Bonus dalam bekerja merupakan suatu yang diinginkan. Terlebih jika keadaan pekerjaan tersebut sungguh tidak biasa, di mana harus terbiasa dengan sistem lembur dan beban pekerjaan tinggi. Bonus menjadi semacam penyemangat dalam bekerja. Sehingga, mudah dalam mengerjakan target selanjutnya. Bekerja di perusahaan besar berbagai bonus akan mengalir untuk Anda.

Tidak saja bonus lembur, tetapi bonus bulanan. Berbanding berbeda jika Anda bekerja di perusahaan startup masih belum rapi soal bonus. Masih memikirkan biaya prosuksi dan pengembangan dibandingkan bonus untuk karyawan.

(Baca Juga: 10 Alasan Pentingnya Perusahaan Memberi Tunjangan untuk Karyawan)

8. Tak semua perusahaan startup memiliki kantor

Sisi Buruk Perusahaan Startup Teknologi

(Image: employmenttechnologies.com)

Ada banyak perusahaan rintisan yang masih menjalankan kerjanya diberbagai tempat. Yang terpenting bagi mereka sebagai permulaan adalah dapat bertemu dengan klien dan usaha tetap berjalan. Beberapa ada yang mengharuskan karyawannya bekerja di co-working space, beberapa ada yang menggunakan rumah sebagai kantor dan beberapa lagi bahkan hanya punya virtual office saja.

Jadi jangan bayangkan bekerja di perusahaan startup berbasis teknologi itu seperti bekerja di kantor Google yang begitu nyaman bak taman hiburan berjuta kali indahnya.

Persoalan Anda akan kerja dimana sangat tergantung dengan pilihan masing-masing. Setiap orang memiliki goals yang berbeda-beda, ada yang memilih peruntungan di perusahaan besar ada pula yang memilih di startup. Umumnya bagi Anda penyuka tantangan, tak ada salahnya mencoba bekerja di startup. Perlu Anda ketahui, di samping poin sisi buruk di atas, ada banyak pula sisi baik yang didapat saat bekerja di perusahaan rintisan.