Waspadai Sesar Aktif (Penyebab Gempa Bumi) Sebelum Bangun Gedung

Sesar Aktif Sebelum Bangun Gedung

Berulang kali pemerintah dan ilmuan mengingatkan bahwa negara ini rawan terjadi gempa. Berbagai wilayah di Tanah Air telah dipetakan lokasi mana yang potensi terkena gempa. Meski Jakarta tidak masuk dalam peta gempa nasional, tetapi ada indikasi itu hanya faktor ekonomi dan politik semata. Terlebih lagi adanya berbagai penelitian sesar aktif yang bakal mengguncang Jakarta.

Yang terbaru, Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Anita Firmanti mengingatkan kepada kita semua bahwa sesar aktif harus masuk dalam daftar salah satu pertimbangan utama yang musti kita lakukan sebelum menentukan lokasi pembangunan infrastruktur skala besar.

Dia mengingatkan bahwa hal ini perlu dilakukan demi meminimalisasi potensi terjadinya kegagalan bangunan yang sangat mungkin menelan korban bila sewaktu-waktu bencana terjadi. Jenis bencana bisa saja berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, bahkan likuefaksi.

“Seluruh pembangunan infrastruktur besar, seperti jembatan, bangunan tinggi, bendungan, fasilitas vital minyak dan gas, atau instalasi vital, wajib memperhatikan keberadaan lokasi jalur sesar aktif,” tutur Anita pada Seminar Nasional di Auditorium Kementerian PUPR, Rabu (21/11/2018).

Sesar Aktif Tersebar

Menurut data yang tercantum pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, setidaknya ada 295 sesar aktif yang tersebar secara merata di seluruh wilayah Tanah Air.

Jika dibandingkan dengan data sebelumnya, jelas ada peningkatan tajam. Misalnya pada tahun 2010 yang hanya tercatat ada 81 sesar aktif. Menariknya, kenaikan sesar aktif tersebut bukan disebabkan karena adanya pertumbuhan sesar baru. Melainkan karena proses penelitian dan identifikasi yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan yang dilakukan sebelumnya.

“Jadi bisa dipastikan data yang sekarang lebih baik dan lebih mempercayai (bila dibanding tahun sebelumnya). Karena peta gempa yang sekarang memiliki reabilitas yang jauh lebih baik ketimbang yang sebelumnya,” ujar Anita.

Di Jakarta keberadaan sesar aktif memang masih menjadi perdebatan. Apalagi sampai dengan saat ini penelitian akan keberadaan sesar aktif masih dilakukan. Tetapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh ahli geodesi Australia Achraff Koulali, mempublikasikan adanya sesar aktif yang melintang sekitar 25 kilometer di selatan Jakarta pada tahun 2016. Sesar ini kemudian dikenal dengan nama Sesar Baribis.

(Baca Juga: Akankah Gedung di Jakarta Tahan Gempa?)

Menurut publikasinya, sesar ini melintang dari Purwakarta, melewati Cibatu (Bekasi) dan Tangerang, hingga Rangkasbitung. Dari data tersebut, jika ditarik lurus dimulai dari Cibatu ke Tangerang, maka secara kasar, sesar ini bakal melewati beberapa Kecamatan yang ada di Jakarta misalnya saja Cipayung, Pasar Rebo, Ciracas, dan Jagakarsa.

Pakar geologi dari Pusat Geoteknologi LIPI yang dilansir SewaKantorCBD.com dari tirto.id, Dr Danny Hilman Natawidjaja menyebut riset yang dilakukan oleh Achraff Koulali adalah valid.

Menurutnya, Modelling-nya sudah betul. Saintifik sudah OK, hanya detailnya saja yang belum. Karena itulah, Danny mulai melakukan penelitian keberadaan sesar ini mulai dari sebulan yang lalu.

Aspek Ijin Bangunan Tinggi Wajib Diperhatikan

Anita Firmanti kemudian melanjutkan bahasanya pada peranan pemerintah daerah. Menurutnya, pemerintah daerah (pemda) harus memperhatikan aspek keselamatan bangunan sebelum memberikan izin pada pembangunan gedung bertingkat.

Ia menuturkan bahwa Pemda wajib memberlakukan aturan ketat sesuai dengan yang berlaku pada Peraturan Bangunan Gedung sebagaimana yang telah dikeluarkan pemerintah pusat. Tujuannya untuk siap diri menghadapi potensi bencana yang mungkin saja bisa terjadi di daerah.

Apalagi menurut data sumber gempa baru yang berasal dari sesar aktif tersebar, misalnya Subang (M=6,5), Sesar Cirebon (M=6,2-6,5), Sesar Brebes (M=6,5), Sesar Ungaran (M=6,0), Muria (M=6,2), dan lain sebagainya.